Skip to main content

DTPHP Provinsi Bengkulu Dorong Pemanfaatan Pupuk Organik

Mukomuko, Siberspace.id -- Petani keluhkan harga pupuk yang mahal dan sulit didapatkan baik pupuk subsidi maupun non subsidi. Senin (11/9/23)

 

Kondisi ini sudah lama terjadi dan diharapkan mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Seperti yang disampaikan Oloan, Petani Sawit di Kabupaten Mukomuko yang mengaku sulit mendapatkan pupuk di pasaran lokal. Padahal pupuk yang digunakan non subsidi, kalaupun diperoleh harganya cukup mahal yang dirasakan sangat memberatkan.

 

“Untuk sawit itu, kebutuhan pupuk lengkap (TSP, KCL dan Urea) untuk satu hektar rata-rata biayanya sampai Rp. 5 juta bahkan pernah lebih karena pas harganya lagi naik dan barangnya langka. Sementara sawit itu per empat bulan harus rutin dipupuk kalau tidak, nggak berbuah.” jelas Oloan 

 

Kondisi kelangkaan dan mahalnya harga pupuk di tingkat petani dibenarkan Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Provinsi Bengkulu, Rosmala Dewi, S.P, M.Si, yang menurutnya karena pendistribusian dari tingkat distributor pusat berkurang.

 

“Ketersediaannya memang minimal, dari distributor pusat ke distributor besar sampai ke distributor kecil hampir tidak ada. Makanya harganya melambung akhirnya penjual bisa melakukan kenakalan-kenakalan menaikkan harga,” ujarnya.

 

Terbatasnya pasokan pupuk tersebut juga diakibatkan bahan baku yang diimpor dari luar negeri juga sedikit serta mengalami kenaikan harga mengakibatkan produsen pupuk juga mengimbaskan pada harga jual pupuk. 

 

Dengan menyediakan pupuk dari lingkungan sendiri baik berupa pupuk kandang dari kotoran ternak atau pupuk biosaka yang berasal dari ekstrak tumbuh-tumbuhan atau gulma (rumput) yang menurutnya lebih mudah didapat. Pupuk ini juga tidak berdampak buruk pada tanaman dan lingkungan, serta dari hasil penelitian penggunaan pupuk ini bisa meningkatkan hasil produksi.

 

Reporter : Edoin

Editor : Muldianto

Wilayah